Bukan geliat malam, tapi riak gerimis sore hari




Dalam cahaya, sekalipun membias
Aku bisa lihat pahamu yang membiru, masih tampak indah; sungguh
Kemarin, saat kamu datang didentang jam di stadion 12
Seperti dulu; kamu selalu tampak murung
Saat sore, saat aku tak berani menatap matamu

Aku sudah dengar suaramu diseberang telpon
Gelombang kata-kata membuat setiap hal lebih dekat
Sejauh ini, sejauh aforisma-mu tentang : langit dan bumi
Dan ribuan kata-kata itu, berpendar sudah
Bahkan ketika kamu ada; aku sudah tidak punya kata-kata lagi

Ada gerimis, simpang kota dan kamu
Yang juga masih seperti dulu : memperhatikanku dengan baik
Lebih baik dari yang kuminta

Begitupun lana, yang sungguh menyayangimu 
Karena kamu memperhatikan detail hidupnya

Malam jaring-jaring harapan
Adukan saja pada desirnya : tentang isak tangismu itu
Sebab jibril datang saat itu,
Yang berhasil menangkap setiap apa yang kamu minta
; kita hanya mengira tentang kemungkinan

Kamu juga masih seperti ibu,
Yang membuat gelombang kepekatan mengabu



Cirebon, Aurora hotel 1 maret 2009 

Perang Yang Takkan Pernah Kita Menangkan*

Gelombang sakralisasi Rockefeller meriak , ribuan borjuasi bomber bersembunyi dalam ketiak , apa yang kalian pahami tentang jatah arak?, Diatas meja starbuck dengan ribuan gelak, Apa bedanya dasimu dengan usus para martir perang yang berurai?, Memamah setiap sudut kepekatan belukar, Serta ribuan nyawa, nyawa yang kau tukar dengan setumpuk kelakar atas nama ekonomi liberal, apapun dalihmu, dalih tentang fluktuasi angka dalam papan bursa saham, sama saja dengan lubang pantat retorika warfound ala hitler, mengalih nama dan angka-angka kedalam brangkas George soros hingga teler. Aku tak akan mengenang nama besarmu kecuali kau tertimbun dalam kakus neraka yang sama sekali tak kau kenali, tanpa tanah pemakaman digali, dengan ribuan tonjokkan Muhammad ali, yang tangan dan kakimu terikat dalam tali, dan setelahnya tanpa bisa mengakali.

Anjing! Serapah mengayuh dengan ribuan dentuman meriam di Gaza, tank yang kalian ciptakan serupa himbauan jalan ketiga giddens, dengan jatah neraka masing-masing, dalam moncong peluru, yang kepala dan nyawamu diburu. Dalam metaforisme Nietzsche, bumi memakan sampahnya sendiri, dan Mr.Bush yang pernah kau harapkan mengebiri teori Gandhi, jatah adalah fenomena pergumulan sengketa darah dalam kantor general oil yang tetap kuat berdiri, tipuan kalam verbal serta literasi menyodomi, hingga pada akhirnya gelakmu seperti lelucon sinetron yang kau biayai dengan ribuan propaganda, layaknya Sartre, mencipta perhelatan dunia sebagai tempat mengada, serta dalih, yang kau ciptakan atas nama stabilisasi, yang memakan lebih banyak berita obituary, selama dentuman meriam belum membahana dalam lubang telingamu, sebelum pekik balita dengan peluru yang bersarang dalam jantungnya, kau takkan pernah merasa puas mengakali, kau sama sekali takkan pernah merasa puas mengakali.  

Revolusi ini adalah perang yang takkan pernah kita menangkan.  

Geliat kata, geliat jiwa, geliat makna. Rentetan peluru bersarang sudah, mengobrak-abrik pion kejayaan kalian sendiri. Kata bagimu adalah menyeratakan asumsi bahwa bongkahan otak tidak lebih penting daripada gundukan tai dicelanamu, jiwa, dan jiwa bagimu adalah seberapa banyak nyawa yang kau pisahkan dari raga, makna bagimu adalah kekuasaan emperor, mengebiri hak civil berdalih terror, dalam propaganda tabung TV, gerakan penyeragaman tai anjing, tai anjing yang kalian imani. 

Dan aku adalah : ujung peluru, yang tanpa microphone sekalipun, akan menghujam jantungmu!. 
*) judul dari album kompilasi kaset indie bandung


when your ‘being’, i'am 'nothing'

Saat ‘mengada’ saat dimana kalian tidak ada, saat kalian ‘mengada’, ribuan suara kalian menguap bersama angin : aku tak bisa mendengar kalian bicara! 


Aming gegerewekan terus, tidak bisa diam, bikin banyak hal yang menurutku biasa jadi luar biasa ditangan dia, hwuh. Dimeja kamar, aming menumpukkan dua pack condom rasa aneh dengan serentetan imajinasi yang memuai ketika si dia tidak bisa datang. B-browser setenang telaga, sekalipun begitu, rima hiphop aku kira selalu berdentum dikepalanya setiap saat, bahkan ketika tanpa suara sekalipun, dia baik, karena aku diperbolehkan menulis dilaptop redupnya itu. Yoseph bergerak seperti layangan, ia berwarna abu-abu, aku pernah lihat photonya saat dia semirip Bruce Lee, ia juga sering mengendap-endap pulsa adiknya, selanjutnya, selalu, ia tak ingin pernah ada dirumah bersama ibunya. Mela, ia seperti wanita kebanyakan yang ketika ada kamera selalu sigap bergaya, yeah, aku kira ia selalu ingin dikenang dalam gambar. Sandy masih sebagai racun, untuk gemerlap, untuk dentuman beat ala si Hitam 50cent, untuk rima monotes setelah civas regal, dan untuk kompromi invitation. Metha memakai baju persis kuda zebra, dengan kalung bling-bling dari Aming, tenang aja Tha Bangsa Indonesia sudah memaafkan kompeni sejak lama, sejak kolonialisme masa lalu yang tertinggal hingga feodalisme bentuk baru jaman sekarang. Iyay cepat pergi. Tyo cepat pulang, saat affairnya dengan Nona Pub selesai di kamar VIP subuh itu. Chiko ingat Bunda, pemilik Aya dengan gaffity didinding rumah, coretannya seolah menghantam Cesar dengan seribu kali lebih hebat. Dan Ibu, yang ketika kamu ada aku hampir tak bisa merangkai kata-kata.

Di Maesanin aku berharap bisa lihat sesuatu dari ketinggian, warna sesungguhnya langit ketika malam, gemerlap lampu-lampu kota, dan gelombang angin. Tapi hujan kangen aku, ia terlalu cepat datang. Aku gak suka kopi maesanin. Aku lebih suka lihat Chiko dan Metha di stage dengan microphone, sekalipun sebenarnya tidak menarik. Aku juga suka saat bicara mengenai rencana debut album Shrimp Citty Squad, aku menyukai nafas kalian, aku bisa merasakan atmosfer semangat yang kalian bawa dimanapun kalian ada, dan senyum yang kalian tebar, sebuah rencana baru, demi perubahan yang kalian yakini : aku mengamininya.

Handphonenya mati bu, sengaja aku matikan. Rasanya ingin mengganti segala hal yang berlalu, rasanya ingin segala sesuatu didekontruksi dari awal lagi. Riaknya membuat aku merasa begitu sangat sepi, menderita dan sungguh-sungguh ketakutan. Aku merasa dingin, aku merasa sangat kedinginan. Rasanya ingin menyerah, tapi tak bisa. Aku juga tak bisa mendengar mereka bicara, sungguh. Ini masih terlalu sepi untukku. Kamu tau bu, kenapa aku sering berada dilingkar teman-temanku? Karena dengan cara itulah mungkin aku bisa mengusir segala rasa tadi, sekalipun selama ini tidak pernah berhasil. Dan mungkin tak akan pernah berhasil. 

Aku ingat Teh Yanti dan Iyang kecil jagoanku, dan yulia, dan Nana, dan Ibu, dan Ayah, dan semua hal yang aku takutkan. Sesungguhnya, sejak lama, aku ingin melihat mereka tersenyum bahagia untukku. Merekalah yang telah membuatku merasa ‘ada’, membuatku harus terus terjaga setiap malam, merekalah yang membuat aku merasa begitu hebat, dan membuat aku harus terus menjadi kuat.  
  


maafkan aku







untuk : Keke (Ikke Dewi Ratna Wulan)

1
"ngapain kamu menelponku lagi?" katamu, "aku mau ke Purwokerto, aku akan tinggal disana, kamu tau saat kamu telpon, ini akan membuatku merasa berat, aku butuh waktu sekitar 3 bulan untuk bisa mengikis ingatanku sendiri...". kamu tau saat aku mendengar kalimat itu? : aku merasa berdosa padamu.

2
aku pernah memberikanmu sebuah kalung murah, saat pameran rakyat. sebelum aku pergi, kau menyimpannya, tidak....mungkin juga tidak, tapi aku tau kamu senang....; bukankah kita pernah dipaksa untuk diphoto bareng?; saat kita berdua...aku akan sangat nakal.

3
"teleponku dekat dapur..."katamu, "jadi aku ditungguin sama orang, biar saat aku bicara ama kamu, aku nggak merasa takut", lalu kamu memukulnya dengan sendok ketika dia tertidur, saat itu jam 10 malam; aku bisa mendengar hembus na...fasmu diseberang telepon. sungguh; aku dapat mengingat detailnya. sejauh ini.

4
Ah, aku lupa lagi adegannya, tapi kamu pernah paksa aku untuk bayarin gorengan! whuaaa....! kamu juga gak pernah peduli aku punya uang atau nggak. tapi aku selalu merasa senang kamu seperti itu; kamu selalu bersikap galak setiap kali ada kesempatan bertemu.

5
pada akhirnya cintaku...., aku menemukan kamu; ditempat yang tidak pernah bisa kusentuh, jauh sebelum gejolak itu ada. sekarang, setelah sekian lama; aku hampir tak mengenalmu...tapi senyumnya, masih seperti masa lalu.

6
suatu saat, setua apapun aku kelak...aku akan memintamu untuk memaafkan aku....

Kenyataan adalah saat ini

Kita tidak pernah tau sampai sesuatu tiba didepan mata, tapi setidaknya kita bisa meramalkan atau menggunakan feeling kita yang terkadang membawa kita kegerbang kenyataan. Kita juga memiliki imajinasi-imajinasi yang terkadang merusak pikiran-pikiran kita yang membawa kita dalam dunia maya, dunia yang penuh dengan pengaturan. Pengaturan yang dirancang oleh diri kita sendiri. Aneh… tapi… nyata dalam arti pikiran-pikiran seperti itu memang benar adanya, mungkin hampir setiap kepala manusia. Selagi dapat mengembangkan atau selagi masih dapat membaca mana maya dan mana yang nyata kurasa itu sah-sah saja. (Lely Susilawati)


Berita di TV mengabari seluruh Bangsa Indonesia tentang kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh Pangeran Kesultanan Kelantar Malaysia, Tengku Muhammad Fakhry kepada istrinya yang berbangsa Indonesia itu, Manohara Odelia Pinot. Kopi dimeja masih belum saya sentuh, masih panas, tapi rokok sudah mengepul sejak saya bangun.

Berita lain yang tak kalah serunya adalah mengenai gimmick para politikus yang tengah berusaha merayu Rakyat Indonesia melalui semua kegiatan politik yang mereka lakukan, sesungguhnya saya pikir hanya media TV-lah yang mereka jadikan senjata terhebat saat ini untuk menciptakan propaganda Pro-Rakyat, agar kita merasa yakin terhadap bursa pencalonan mereka; bahwa merekalah yang paling memenuhi prasyarat dalam program memperjuangkan Bangsa Indonesia ini melalui kekuasaan yang mereka miliki kelak.

Pemilu Presiden 2009 memasang para Calon Presiden dan Wakil Presiden dengan ribuan sandiwara yang dihembuskan melalui sandiwara-sandiwara persis panggung sungguhan. Susilo Bambang Yudoyono dan Boediono yang dicap penggusung Neo-Liberal, Megawati Soekarno Putri dan Prabowo yang lebih kelihatan seperti Sosialis dengan menggusung yel Pro-Rakyat, Jusuf Kalla dan Wiranto yang kelihatan seperti pebisnis yang banyak mencuatkan teori ‘gambling’ sebagai percepatan dalam mengatasi masalah-masalah kerakyatan. Saya merasa betapa panasnya persaingan ini.

Hujan diluar menciptakan atmosphere romantisme sendiri, saya masih mengalami banyak trauma dari setiap kejadian dan upaya-upaya penyelesaian masalah, setelah segala yang saya lakukan belumlah menemukan hasil yang signifikan. Saya sendiri belumlah sembuh dari rasa was-was ini, belumlah memiliki hasrat untuk memulainya lagi, saya masih belum mau beranjak dari sini, dari kontemplasi yang saya pikir adalah bentuk penyembuhan terhadap diri sendiri untuk kembali menemukan cara terbaik dalam memulai lagi merumuskan dan bergerak mengatur masa depan. Dan, hidup… rasanya terlalu singkat untuk saya ikuti rimanya.

“kamu terlalu virtual goh!” kalimat itu yang selalu berdengung dalam pikiranku. “ini dunia nyata, harusnya kamu lebih nyata dari duniamu sendiri”. Semenjak mendengar kalimat itu, semenjak itu pula paradigma berbeda menggelitikku. Denyutnya mengubah parameter yang sejak dulu menjadi idealisasi yang saya pakai untuk menyikapi segala sesuatu, kini saya sungguh-sungguh tidak tau… barangkali hal yang saya yakini sejak dulu adalah sebuah hayalan- dari imajinasiku sendiri, saya terkurung oleh ruang yang sebenarnya telah diciptakan oleh saya sendiri.

Mungkin saya hanya mengira bahwa imajinasi telah saya ubah menjadi kenyataan yang sebenarnya padahal tidak. Ini hanya sebuah ilusi, ilusi yang menciptakan resiko-resiko tinggi… tapi bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin sebuah ciptaan imajinasi mengakibatkan resiko nyata? Kemudian saya mengira bahwa justeru inilah kenyataan itu. Hanya saja saya berada dalam persimpangan, dijalan bernama ‘resiko’, saya merasa sedang berhenti disitu.

Berita TV masih menyala, kali ini tentang Global Crisis Efect, General Motor sebagai lambang produk Amerika Serikat itu tumbang, kebangkrutan ketiga terbesar sepanjang sejarah perekonomian dunia, 11 perusahaanya dinyatakan hendak ditutup, artinya akan ada pengangguran besar-besaran di negeri Obama ini, pemerintah Amerika sendiri berencana untuk mensubsidi perusahaan raksasa itu sekitar 311 Milyar dollar lebih, entahlah. Saya meminum lebih banyak kopi dalam satu seruputan; hujan diluar masih tampak romantis.

Saya mengingat pidato Susilo Bambang Yudoyono dalam menanggapi lawan politiknya tentang ketidak setujuannya terhadap pidato kampanye yang banyak menawarkan ‘angin surga’, dalam pertumbuhan ekonomi yang direncanakan masa pemerintahannya mendatang, ia mematok peningkatan hingga 7%, Megawati dengan Prabowo 10%, bagiku sama saja. Sebuah rencana hanyalah sebuah rencana. Rencana masih sebuah wacana, sebuah dunia bernama maya. Ia belumlah menjadi kenyataan.

Saya mengingat lagi sebuah narasi :’gagal merencanakan sesuatu berarti merencanakan kegagalan’. Saya selalu mengingat itu. Saya selama ini banyak menciptakan rencana-rencana, rencana adalah reaksi dari rasionalisasi-imaji menuju kenyataan yang sesungguhnya, ia yang kelak akan menciptakan bentuk dari apa yang terjadi, kenyataan sebenar-benarnya. Tapi rencana bisa meleset, banyak faktor yang mengakibatkan hal itu terjadi baik secara emosional maupun rasional.

Dalam Psikologi Imajinasinya Jean paul Sartre bahwa ‘imajinasilah yang menciptakan realitas’ sesungguhnya benar adanya. Ketika saya menciptakan proyeksi dalam rancangan-rancangan yang ada, kadangkala saya menemukan banyak sekali orang yang tidak mempercayai itu; mereka mengira hanya sebuah ilusi. Ia tidak benar-benar ada.
Kenyataan dalam beberapa pengalaman yang ada, dari banyaknya rencana proyek, hanya satu yang bisa dijalankan; dan itupun tentu memuat resiko kegagalan. Bagaimana ketika kegagalan itu terjadi? Mereka tidak akan pernah mempercayaimu lagi!. Mereka sungguh-sungguh pembenci kegagalan, mereka tidak akan menerima kegagalan sebagai sebuah resiko kewajaran; karena mereka tidak pernah mendapat nilai apapun dari kegagalan itu.

Sebenarnya apa yang mereka harapkan dari gerak ini? Sebuah keberhasilan. Harapan adalah kenyataan dalam dunia maya, dunia penuh kelimpahan dalam imajinasi-imajinasi, sedangkan Keberhasilan adalah kenyataan dalam dunia yang sungguh-sungguh dialami. Tapi bagaimana bisa mereka bergantung pada harapan-harapan yang mereka sendiri tau bahwa itu sebuah imajinasi dari mereka sendiri? Itu belumlah menjadi kenyataan, dan bisa berbalik menjadi 360 derajat bernama kegagalan.

Sesungguhnya kenyataan adalah apa yang kita lakukan, apa yang kita dapatkan, apa yang terjadi. Dan bukan sebuah harapan-harapan. Karena harapan dari rencana-rencana itu hanya nyata dalam imajinasimu saja.

Jadi tungguhlah, sampai kita semua tau ‘apa yang kelak kita dapatkan’ dalam kenyataan: sebuah keberhasilan seperti dalam rencana yang kita harapkan dari dunia maya itu atau sebuah resiko kegagalan?. Saya katakan sekali lagi itulah kenyataan.
Kopi telah habis, hujan masih juga tampak romantis, saya telah mencipta janji dengan orang pertama setelah merasa harus bangkit dari reruntuhan ini. Tanggungjawab terbesar baru hendak dimulai dari sini.
Semangat!.

Kuningan, 01 Mei 2009s

Seperti Ini;

ini yang paling rumit, bumi atas nama agusgoh (catet).aku juga rumit, dan tentu, liar.bahkan lebih liar dari apapun yang hinggap dipikiran mu...;lalua ku hanya bagian kecil dari serentetan kesibukan bumi ini...tp ada banyak yang tidak aku mengerti, yang, kemudian aku paksakan untuk selalu dipahami..., aku sadar, bahwa hidup hanyalah penumpukan sejarah2, hanya dikenang, dipelajari, lalu hilang...mungkin hanya gaungnya saja yang melekat. dan, tentu ada banyak gaung yang sempat kita tau.
aku sebut :hanya bagian kecil dari serentetan kesibukan bumi ini...

sekalipun begitu, aku hanya ingin berjalan dari jalan yang
dilalui raja-raja...betapapun letihnya jalan itu...tp ini seperti kata 'Cinta' yang
setiap orang tau itu. yah..., anggap demikian.

ada Tuhan, yang kemudian aku baru sadari bahwa Tuhan bicara
dengan segala bahasa, gunung2, kitab, pikiran kita, laut api,
dan seluruh yang kita kenal dan tidak kita ketahui. kita, aku
hanya bisa melihat banyaknya 'pertanda' Tuhan...
mengikuti pertanda...seperti mengikuti Tuhan, yang sering aku
kenal dekat...(2007)

Para Alchemist

Ada para Alchemist dalam bahasa Paulo Coelho; mengubah besi menjadi emas...aku pikir ini sepadan dengan aliran eksistensializmnya Jean Paul Sartre yang mengatakan tentang pentingnya imajinasi, hingga ' psikologi imajinasi'nya mencuat menjadi bahasa yang sulit untuk dipahami, tetapi aku setuju dengan ide itu, bagaimana kemudian kita mempunyai satu ruh bernama imajinasi dalam diri kita. aku berfikir begini, apapun yang dibentuk oleh manusia hingga kemudian menjadi sebuah bangunan anggun, hanyalah sebuah akumulasi realistik dari imajinasi kita yang liar.

para Alchemist dijaman sekarang adalah para enterpreneur masa mendatang, yang lalu mengubah apapun menjadi sesuatu yang banyak dipakai masyarakat, dibutuhkan, dan menjadi bagian penting dari hidup ini...apapun itu, termasuk sampah sekalipun. (2007)